Dame Ambarita’s Weblog

Peduli Apa!

12 Juni 2009 · 2 Komentar

Engkau mau jungkir balik
Mau balik jungkir
Aku tak peduli lagi
Silahkan berbuah semaumu
Aku akan tutup mata tutup telinga
Bahkan takkan coba mengintip
Apa yang kau lakukan dalam senyap

Silahkan… silahkan
Lakukan apa yang kau suka
Selagi kau masih ada waktu

Aku bukan marah bukan jengkel
Hanya tak peduli saja lagi
Karena peduli pun ternyata tak banyak gunanya
Hanya mengundang pertikaian
So, silahkan jungkir balik
Peduli apa dengan semua itu
Aku capek sakit kepala!

Siantar, Juni 2009

→ 2 CommentsKategori: Puisi

Pertempuran

19 Mei 2009 · 2 Komentar

Kau pernah bertempur?

Kau pernah dengar deru perang?

Kau pernah angkat senjata?

 

Ou ou… tidak katamu?

Hari gini perang, katamu?

 

Tapi aku pernah bertempur

Dan aku sedang bertempur

Kau dengar pekik perangku?

Kau lihat senjataku?

 

Ou ou… tidak katamu?

 

Aku sedang bertempur

Bukan… bukan seperti Perang Dunia

Ini pertempuran tentang perebutan kekuasaan

Tentang hilangnya harga diri

Tentang sulitnya pilihan hidup

Tentang gugurnya idealisme… (cuih…)

 

Kau tak dengar deru perangku?

Tak lihat senjataku?

Memang… memang perangku tidak bersuara

Tidak hangar-bingar laiknya perang

Tidak membunuh nyawa

 

Tapi jika kau peka

Kau pasti akan merasakan hembusan perangku

Dan mendengar derunya di kesenyapan

 

Pekakah engkau?

 

Siantar, Mei 2009

→ 2 CommentsKategori: Puisi

Legenda Piso Somalim (Nagaisori)

19 Mei 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dahulu kala hiduplah seorang raja di daerah Rura Silindung yang bernama Punsahang Mataniari-Punsahang Mata ni Bulan, Raja yang sangat makmur dan kaya raya. Raja ini mempunyai seorang saudara putri yang bernama Siboru Sandebona yang kemudian kawin dengan raja Panuasa dari kampung Uluan.

Suatu saat Siboru Sandebona mengandung seorang anak laki-laki, akan tetapi setelah genap waktunya bayi ini tidak kunjung lahir, kemudian Siboru Sandebona kebingungan, lalu menemui seorang dukun sakti untuk menanyakan apa yang bakal terjadi dengan anak yang ada di dalam kandungannya. Dusun sakti kemudian memberikan jawaban bahwa bayi ini akan menjadi seorang laki-laki yang memiliki kharisma dan kelebihan tersendiri.

Begitulah setelah lahir, bayi ini diberi nama Sipiso Somalim. Setelah dewasa Sipiso Somalim sudah menunjukkan kelebihan tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya. Pada suatu saat dia disuruh orangtuanya untuk membajak sawah dengan menggunakan tenaga kerbau, dia hanya duduk tenang, namun kerbau ini dapat disuruhnya bekerja sendiri untuk membajak sawah itu. Dalam sikapnya terhadap orang-orang sekitarnya, dia sangat sopan dan berbudi baik. Bahkan semua tindak tanduknya mencerminkan sikap seorang anak-raja.

Pada usia sudah matang, Sipiso Somalim tetap saja pada pendiriannya untuk meminang putri pamannya, ibunya tidak kuasa lagi menolak permintaan Sipiso Somalim. Lalu suatu ketika ibunya memberangkatkan Sipiso Somalim yang didampingi seorang pengawalnya yaitu Sipakpakhumal.

Dengan mengenakan pakaian kebesaran serta bekal secukupnya termasuk “Pungga Haomasan” (obat penangkal lapar dan haus), Sipiso Somalim berangkat menuju kampung pamannya Rura Silindungdn menelusuri hutan lebat, dengan jalan yang penuh resiko, seperti ancaman dari binatang buas mereka pun berjalan hingga suatu hari tiba pada sebuah pancuran yang sangat sejuk. Melihat sejuknya air pancuran ini, Sipiso Somalim meminta agar mereka berhenti dan mandi untuk melepas rasa letih. Kemudian dia menanggalkan pakaian kebesarannya dan selanjutnya meminta Sipakpakhumal untuk menjaganya.

Adapun Sipakpakhumal sejak keberangkatannya dengan Sipiso Somalim sudah memiliki niat jahat bagaimana agaar dia dapat berperan sebagai Sipiso Somalim agar selanjutnya dapat memperistri putri Punsahang Mataniari. Maka dengan diam-diam dia mengenakan pakaian kebesaran Sipiso Somalim seperti layaknya seorang raja. Karena asiknya Sipiso Somalim mandi, dia tidak menghiraukan apa yang telah diperbuat Sipakpakhumal tadi. Setelah siap mandi betapa terkejutnya Sipiso Somalim menyaksikan Sipakpakhumal yang telah mengenakan pakainnya, dan sama sekali dia tidak dapat berbuat apa-apa, karena dengan pakaian ini kharisma Sipiso Somalim langsung pindah Sipakpakhumal.

Sipakpakhumal kemudian dengan menghunus pedang, dan suara lantang berkata, “sejak sekarang ini sayalah yang menjadi Sipiso Somalim dan kau menjadi Sipakpakhumal, kita akan terus menuju kampung Pusahang Mataniari dan jangan sekali-kali bicara pada siapapun bahwa aku telah menggantikanmu sebagai Sipiso Somalim, dan apabila hal ini kau ceritakan pada siapapun kau akan kubunuh, mengerti,” . Mendengar semua ini Sipiso Somalim tidak dapat bebuat apa-apa kecuali hanya tunduk serta menerima apa yang terjadi.

Perjalanan pun dilanjutkan dan sejak itu, Sipiso Somalim dipanggil menjadi Sipakpakhumal dan demikian sebaliknya, Sipakpakhumal menjadi Sipiso Somalim. Selama dalam perjalanan, Sipakpakhumal yang sebelumnya adalah Sipiso Somalim tetapmenunjukkan sikap baik pada Sipiso Somalim, dan selama itu pula Sipakpakhumal tidak habis piker bagaimana perasaan ibu yang dia tinggalkan sebab sebelum berangkat dia berpesan kepada ibunya agar ibunya memperhatikan sebatang pohon yang dia tanam di dekat rumahnya, apabila pohon itu layu berarti dia mendapat kesulitan di tengah jalan, dan apabila mati maka dia telah mati diperjalanan.

Setelah berjalan beberapa hari akhirnya mereka tiba di Rura Silindung tempat Punsahang Mataniari-Punsahang Mata ni Bulan. Meilhat Sipiso Somalim datang Punsahang Mataniari terus tahu bahwa dia adalah anak saudarinya yaitu Siboru Sandebona. Lalu dengan langsung dia memeluk Sipiso Somalim meskipun sebenarnya dia memiliki firasat bahwa ada yang kurang beres dengan keponakannya itu, tetapi mereka tidak menunjukkan bahkan memperlakukannya Sipiso Somalim seperti keluarganya sendiri. Adapun Sipakpakhumal yang merupakan Sipiso Somalim yang sebenarnya tetap diam dan tidak berani berbuat apa-apa dan dia diperlakukan sebagai layaknya seorang pembantu. (Bersambung) Sipiso Somalim (Nagaisori)

Lama kelamaan Sipakpakhumal yang mengaku sebagai Sipiso Somalim makin menunjukkan sikap yang kurang baik terhadap keluarga pamannya maupun kepada Sipakpakhumal. Sebagaimana tujuan keberangkatan Sipiso Somalim untuk meminang putri pamannya, suatu ketika dia menyampaikan hasrat tersebut kepada pamannya. Akan tetapi untuk sementara, pamannya menolak dengan cara halus dengan alasan agar jangan terburu-buru dulu. Semua ini tentu karena pamannya makin hari makin curiga terhadap Sipakpakhumal yang mengaku sebagai Sipiso Somalim.

Rasa gelisah tetap menyelimuti hati ibu Sipiso Somalim, di kampung halaman, lalu kemudian dia kembali mengirimkan seekor kerbau yang bernama “Horbo Sisapang Naualu”. Ketika kerbau ini sampai Punsahang Mataniari memanggil Sipiso Somalim untuk mengiring kerbau ini kekandang. Akan tetapi saat dia mendekat kerbau ini mengamuk dan hampir menanduk Sipakpakhumal. Dengan kejadian ini, Punsahang Mataniari semakin menyadari bahwa ada yang tidak beres diantara Sipiso Somalim dan Sipakpakhumal. Kemudian Punsahang Mataniari memanggil Sipakpakhumal untuk mengiring kerbau tadi. Pada saat Sipakpakhumal mendekat, kerbau ini langsung mendekat seperti bersujud.

Kedatangan kerbau ini, bagi Sipakpakhumal mengetahui bahwa itu sengaja dikirim oleh ibunya dari kampung halaman. Sehingga pada saat dia menggembalakan kerbau ini di sawah dia membuka tanduk kerbau ini ternyata di dalamnya terdapat berbagai jenis alat musik dan perhiasan kerajaan sementara kerbau ini membajak sawah, dia memainkan alat-alat musik tadi sehingga karena merdunya segenap burung yang terbang diangkasa turut bernyanyi ria.

Pada siang hari, datanglah putri Punsahang Mataniari untuk mengantar makanan Sipakpakhumal. Setelah dekat, dia sangat terkejut mendengar musik yang sangat merdu yang diiringi oleh nyanyi ria yang banyak bertengger diatas dahan, ternyata yang memainkan musik ini adalah Sipapakhumal. Lebih terkejut lagi, pada saat dia memperhatikan bahwa kerbau tersebut membajak sawah tanpa digembalakan Sipakpakhumal.

Dengan rasa gugup dan ketakutan, Sipakpakhumal menerima makanan itu dari putri Punsahang Mataniari, dasar curiga, putri Punsahang Mataniari pamit seolah-olah pulang ke rumah akan tetapi dia bersembunyi dibalik sebuah pohon besar untuk mengamati dari dekat tindak tanduk Sipakpakhumal. Sipakpakhumal merasa bahwa putri Punsahang Mataniari sudah jauh lalu diambilnya nasi tersebut dan ditaburkannya untuk makanan burung yang semuanya mengelilingi Sipakpakhumal. Kemudian dia merogoh kantongnya dan mengambil sebuah benda kecil yang disebut “pungga haomasan”.

Pungga haomasan ini kemudian dicium dan dijilat lalu seketika itu dia kenyang sebagaimana layaknya makan nasi. Pungga haomasan ini diberikan ibunya saat dia berangkat dahulu dan sampai saat itu tetap berada ditangannya. Sehingga selama ini pun Punsahang Mataniari sebenarnya juga curiga karena pengetahuannya Sipakpakhumal tidak pernah makan tetapi tetap mengaku kenyang. Menyaksikan semua apa yang terjadi putri Punsahang Mataniari cepat-cepat menemui dan memberitahukan apa yang dia saksikan kepada ayahnya Punsahang Mataniari, dan ayahnya pun semakin yakin bahwa Sipakpakhumal yang dijadikan pembantu adalah Sipiso Somalim yang sebenarnya.

Sementara itu, Sipakpakhumal yang mengaku Sipiso Somalim semakin mendesak pamannya agar dia dikawinkan dengan putri pamannya. Hingga pada suatu ketika, pamannya mempertanyakan kepada putrinya yang paling sulung agar berkenan menerima Sipakpakhumal yang mengaku sebagai Sipiso Somalim menjadi suaminya akan tetapi dia menolak permintaan itu. Kemudian Punsahang Mataniari menawarkan kepada anak perempuannya nomor dua dan ternyata putrinya itu mau. Lalu malalui upacara adat mereka dikawinkan.

Putri sulung Punsahang Mataniari meminta kepada ayahnya untuk menggelar upacara dengan membunyikan seperangkat musik dan mengundang semua pemuda yaitu anak raja-raja yang berada disekeliling kampungnya. Untuk menari dan dia ingin memilih salah satu dari antara mereka untuk menjadi suaminya. Acara sudah digelar akan tetapi tak satu orangpun dari pemuda itu berkenan di hati putrinya Punsahang Mataniari, namun diluar dugaan, tiba-tiba seorang pemuda menunggang kuda dan berpakaian kerajaan tiba-tiba muncul dipesta itu, semua orang tercengang dan seketika itu pula pemuda itu meninggalkan pesta itu.

Dengan kehadiran pemuda itu, sang putri mengatakan kepada ayahnya bahwa dia sangat tertarik kepada pemuda tersebut dan meminta kepada ayahnya agar dia menyuruh para pengawal untuk mencari asal pemuda tadi. Para pengawalnyapun mengikuti jejak pemuda tadi dan akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yaitu tempatnya Sipakpakhumal untuk mengembalakan ternak tuannya. Para pengawalmya heran sebab ada tanda-tanda bahwa Sipakpakhumal lah lelaki yang baru saja hadir di pesta itu, karena sesaat setelah Sipakpakhumal berada di gubuknya lalu ia menukar pakaiannya seperti semula dan pakaian kebesaran itu adalah pemberian ibunya yang dikirimkan melalui kerbau itu dan setelah dia sampai dipondoknya, pakaian kebesaran itupun ditanggalkan dan memakai pakaian biasa.

Para pengawal kemudian kembali dan melaporkan kepada Punsahang Mataniari bahwa mereka telah tidak menemukan jejak pemuda itu. Dengan hati tidak sabar, Punsahang Mataniari kemudian memangil si Piso Somalim serta bertanya apa yang pernah terjadi antara mereka berdua. Karena Punsahang Mataniari mengancam akan membunuh apabila dia bohong maka Si Piso Somalim mengaku dengan terus terang apa yang telah dia lakukan terhadap Sipakpakhumal sehingga Sipiso Somalim yang sebenarnya akhirnya dijadikan sebagai Sipakpakhumal dan demikian juga sebaliknya.

Dengan perasaan berang sebenarnya ingin menghukum Sipakpakhumal ini, akan tetapi karena Punsahanng Mataniari sadar bahwa Sipakpakhumal telah terlanjur menantunya sehingga dia tidak dapat berbuat apa-apa.Begitupun karena Sipakpakhumal menyadari kesalahannya dan merasa hidupnya akan terancam, besok harinya pada pagi-pagi buta dia melarikan diri beserta istrinya yang menurut cerita berangkat menuju Sumatera Timur.

Pada kedua kalinya, atas permintaan putri Punsahang Mataniari, kembali digelar acara adat dengan membunyikan seperangkat alat musik, dan pada saat acara berakhir tiba-tiba seorang pemuda dengan menunggang kuda “Siapas Puli” kembali hadir setelah menari-nari sejenak akhirnya menghilang. Baik Punsahang Mataniari maupun putri sulung menganggap bahwa yang datang itu adalah Sipiso Somalim yang sebenarnya dan yang selama 7 tahun telah terlanjur mereka jadikan sebagai pembantu dan semua ini adalah atas ulah dari kebohongan Sipakpakhumal yang selama ini mengaku sebagai Sipiso Somalim.

Maka pada saat itu juga, Punsahang Mataniari memerintahkan para pengawal untuk menjemput Sipakpakhumal dari tempatnya dan membawanya terhadap Punsahang Mataniari. Pakpakhumal sebenarnya apa yang terjadi dan sebelumnya dia menolak untuk menemui Punsahang Mataniari akan tetapi setelah dibujuk akhirnya diapun mau.

Pertemuan dengan Punsahang Mataniari beserta seluruh keluarganya sangat mengharukan. Pada saat itu akhirnya Sipakpakhumal yang sebenarnya adalah Sipiso Somalim menceritakan semua yang terjadi sejak diberangkatkan Ibunya 7 tahun yang lalu akhirnya mendapat malapetaka atas ulah licik Sipakpakhumal yang sebenarnya. Pada saat itu pamannya menyampaikan maaf yang sebenarnya atas apa yang terjadi selama 7 tahun ini.

Suasanapun berobah, suatu saat pamannya mengutarakan bahwa mereka memiliki hasrat untuk menjadikan Sipiso Somalim sebagai menantunya. Pada awalnya Sipiso Somalim menolak akan tetapi setelah dia pertimbangkan masak-masak akhirnya dia terima dan pesta perkawinanpun dilaksanakan dengan menggelar upacara adat.

Sipiso Somalim akhirnya menikah denngan putri pamannya sesuai dengan keberangkatannya untuk menemui pamannya Punsahang Mataniari 7 tahun yang silam dan pada suatu waktu dia beserta istrinya meninggalkan Rura Silindung dan kembali menemui Ibunya di kampung halamannya yaitu Kampung Uluan.

Sumber: Dinas Parawisata Taput

→ Leave a CommentKategori: Seputar Batak

Ekspedisi Jalan Kaki 180 Km Medan-Parapat (1)

24 Maret 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Asalkan Kami Terus Berjalan ke Arah yang Tepat, Kami akan Tiba di Tujuan”

 

Foto di Lubuk Pakam, pada hari pertama jalan kaki menempuh rute Medan-Parapat.

Foto di Lubuk Pakam, pada hari pertama jalan kaki menempuh rute Medan-Parapat.

“Tidak masalah seberapa lambat kami berjalan kaki, asalkan kami terus berjalan dan berjalan ke arah yang tepat, kami akan tiba di tujuan.” Prinsip yang sama, jika diterapkan di dunia pendidikan kita, menurut Nugroho MM, Direktur Perguruan Cendana Medan –yang memimpin ekspedisi–, pasti akan berhasil memajukan bangsa ini.

 

Dame Ambarita, Siantar

 

“Jalan kaki dari Medan-Parapat sejauh 180 kilometer? Gila apa?” Itulah komentar sekian orang yang mendengar rencana Nugroho MM, Direktur Perguruan Cendana Medan, beserta lima orang mahasiswanya, yang akan berjalan kaki dari Kota Medan ke Parapat. Kelima mahasiswa itu masing-masing Samsudin (21) dan Felick (20), keduanya mahasiswa jurusan Managemen Pemasaran, serta Tommy Wahyudi (21), Jimmy Wahyudi (21), dan Darmadi (20), ketiganya mahasiswa jurusan Managemen Perkantoran Perguruan Tinggi Cendana Medan.

 

Tapi keenamnya pantang surut. Dengan tekad, ‘segalanya mungkin dilakukan’, Jumat (20/3) baru lalu start pukul 07.00 WIB, mereka memulai perjalanan jalan kaki dari depan Perguruan Cendana Medan, Pusat Niaga Asia Mega Mas Medan tujuan ke kota turis Parapat.

 

“Prinsipnya, biar lambat tapi terus melangkah,” kata Samsudin, salahsatu peserta ekspedisi jalan kaki, saat ditemui METRO di Siantar, Sabtu (21/3). Keenamnya pun berjalan penuh semangat dan penuh vitalitas.

 

Nugroho menjelaskan, niat melakukan perjalanan jalan kaki ke Parapat sudah muncul sejak dua tahun lalu. Namun karena sejumlah kesibukan, baru terwujud Maret 2009.

 

Apa yang ingin dicapainya dengan melakukan perjalanan melelahkan itu? “Saya ingin menginspirasi lebih banyak lagi komponen bangsa ini dalam membangun pendidikan di negara ini. Prinsip berjalan kaki ini, biar kita lambat, asalkan kita terus berjalan dan berjalan ke arah yang tepat, kita akan sampai ke tujuan. Demikian juga dengan pendidikan, tidak peduli seberapa lambat kita membangun, asalkan kita terus membangun dan membangun ke arah yang tepat, bangsa ini akan maju. Untuk itu, kita harus membangun dunia pendidikan. Karena jika pendidikan gagal, jangan harap Indonesia akan maju dan kuat. Kita memang bangsa yang besar, tapi belum kuat,” cetusnya.

 

Untuk memilih mahasiswa yang ikut ekspedisi, pihaknya mengumumkan rencana itu ke setiap kelas. Siapa yang ingin ikut, silahkan mendaftar. “Ternyata peminatnya cukup banyak, ada sekitar 50-an orang,” cetusnya.

 

Maka, dilakukanlah seleksi dengan sejumlah tes fisik. Antara lain push up, skuad jump, berdiri dengan satu kaki, dan lainnya. Yang lulus ketahanan fisik ada 7 orang. Tetapi saat keberangkatan, dua orang batal ikut karena urusan keluarga. “Jadilah kami berenam,” tuturnya seraya tersenyum.

 

Jalan kaki menempuh Kota Medan-Tebing, membutuhkan waktu sekitar 14 jam. Tempo itu sudah termasuk istirahat, makan minum, dan pertemuan dengan Bupati Serdang Bedagai, Nuriadi.

 

Usai bermalam di Kota Tebing, Sabtu (20/3) pagi mereka kembali berangkat menuju Kota Siantar. Dan Sabtu malam menginap di salahsatu hotel di Siantar.

 

“Hari pertama, rasanya sangat melelahkan. Kaki lecet-lecet. Saya terpaksa mencopot sepatu dan menggantinya dengan sandal. Belum panas terik, lalu lintas yang cukup padat, dan lainnya. Untunglah di hari kedua ini, sudah agak mendingan,” kekeh Nugroho.

 

Meski lelah, belum ada anggota tim yang menyerah. Mereka belajar kegigihan, kesabaran, dan kejujuran dari ekspedisi tersebut. “Kalau kita sudah berhasil menaklukkan rute Medan-Parapat dengan berjalan kaki berikut segala tantangannya, saya percaya kita akan mampu menghadapi rintangan yang akan muncul di kehidupan kita ini,” kata Samsudin dengan nada optimis.

 

Felick menimpali, dirinya belajar soal kejujuran dalam perjalanan itu. “Kita belajar jujur, yakni benar-benar berjalan kaki, meski ada mobil yang siap sedia di belakang kita menjaga kalau-kalau ada yang menyerah. Jujur itu sebuah tantangan tersendiri,” katanya.

 

Pelajaran ‘segalanya mungkin dilakukan asalkan ada kemauan’ juga mereka pelajari dari ekspedisi ini. Dengan benar-benar berjalan kaki, mereka menepis komentar sejumlah orang dekat mereka, yang berkata ekspedisi itu tak mungkin dilakukan. “Ada yang bilang, bisa mati kalau jalan kaki Medan-Parapat. Ternyata sampai saat ini, kami baik-baik saja. Bahkan rasanya bersemangat, karena kami sudah benar-benar melakukannya,” kata Darmadi bersemangat.

 

Si kembar Tommy Wahyudi dan Jimmy Wahyudi juga mengatakan hal senada. Kata mereka, rintangan yang dihadapi sepanjang perjalanan, seperti capek, kaki lecet, dan lainnya, membuat mereka belajar untuk tidak cepat menyerah. “Kesabaran dan kegigihan kita benar-benar diuji,” cetus mereka sambil senyum manis.

 

Kelimanya sepakat, perjalanan ini membuat mereka lebih berpikiran positif, bahwa mereka mampu melakukan pekerjaan yang nampaknya mustahil dilakukan.

 

Lalu, kenapa Nugroho memilih jalur Medan-Parapat, dan bukan rute lainnya dalam misi menginspirasi komponen bangsa ini memajukan pendidikan? “Parapat itu sebuah daerah tujuan wisata yang belakangan ini kurang terekspos. Kita mau, agar ekspedisi ini juga mampu mengingatkan orang-orang akan indahnya Kota Parapat dan Danau Toba,” katanya.

 

Dalam memajukan dunia pendidikan, Nugroho tak hanya tinggal diam dengan konsep. Dia telah berbuat. Awalnya dengan membuka Sekolah Sempoa, cara berhitung dengan menggunakan sempoa, yang muridnya saat ini sudah mencapai 3.000 orang tersebar di seluruh Sumatera Utara dan Aceh. Dan 2003 lalu, ia mengambil alih Perguruan Tinggi Cendana Medan, Akademi Sekretari dan Manajemen. Membangun sistem pendidikan yang lebih baik dari yang lain.

 

Dalam mendidik ‘anak-anaknya’ (istilah untuk mahasiswanya), Nugroho mendidik dengan fokus ilmu terapan, membangun rasa percaya diri mahasiswa dalam berkomunikasi dan mengutarakan pemikirannya, dan sebagainya. “Keunggulan pendidikan di Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Cina adalah mereka lebih fokus ke keahlian dan aplikasi nyata di lapangan. Sementara di negara kita, kebanyakan sistem pendidikan adalah menjejali murid dengan teori. Akibatnya, setamat kuliah, banyak sarjana kita yang tak tau harus berbuat apa, makanya banyak pengangguran. Ini yang kita hindari di Perguruan Tinggi Cendana. Di sini, kita mengasah anak-anak agar memiliki keahlian dan mampu mengaplikasikannya di lapangan. Kita didik anak-anak membangun jaringan, dan membangun percaya diri mahasiswa dengan melatih mereka presentasi setiap minggu,” katanya.

 

Untuk memajukan anak-anak didiknya, Nugroho menggandeng Olympia College Malaysia menjadi sister College PT Cendana, lalu Toastmasters Leadership Institute yang berpusat di Amerika dalam mengembangkan ketrampilan kepemimpinan para mahasiseanya, St Clements University Inggris. Dan Singapore Education Consultant. Juga kerap membawa anak-anak didiknya study tour ke sejumlah institusi pendidikan di sejumlah negara, membawa hiking alam untuk melatih keberanian. Salahsatunya, dengan membawa lima mahasiswanya dalam ekspedisi jalan kaki Medan-Parapat.

 

Minggu (22/3) pukul 06.00 WIB, mereka kembali jalan kaki dari Siantar menuju Parapat, menikmati alam Danau Toba, dan rencana kembali ke Kota Medan naik kendaraan pada Senin (23/3). Selamat! (*)

→ Leave a CommentKategori: Catatan Kaki

Ekspedisi Jalan Kaki 180 Km Medan-Parapat (2/Habis)

24 Maret 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Teriakan di Parapat: Yes Yes Yes… , Akhirnya Kita Melakukannya!

 

Tiba di Parapat, Yessss!!

Tiba di Parapat, Yessss!!

Aksi jingkrak, lompat, teriak, sambil mengepalkan tinju ke udara, menjadi hal pertama yang dilakukan keenam peserta ekspedisi Jalan Kaki Medan-Parapat sejauh 180 km, setiba di kota turis Parapat, Minggu (22/3) sore sekira pukul 18.00 WIB. “Yes, yes, yes… akhirnya kita melakukannya! Itulah teriakan mereka dengan semangat berapi-api.

 

Dame Ambarita, Siantar

 

Jarak Kota Pematangsiantar-Parapat sekira 45 menit, biasanya cukup ditempuh sekira 45 menit sampai 1 jam lebih, naik bus umum. Dengan jalan kaki, ternyata waktu yang dibutuhkan memerlukan waktu sekira 12 jam. Tentu, waktu selama ini hanya bagi mereka yang melakukannya tanpa merasa perlu terburu-buru. Prinsipnya, biar lambat, asal terus melangkah ke arah yang benar, pasti sampai di tujuan.

 

Dan jalan kaki sekitar 12 jam dari Kota Pematangsiantar ke Parapat inilah yang dilakukan peserta ekspedisi Jalan Kaki Medan-Parapat, yakni Nugroho MM, Direktur Perguruan Cendana Medan yang memimpin ekspedisi, beserta lima orang mahasiswanya, masing-masing Samsudin (21) dan Felick (20), keduanya mahasiswa jurusan Managemen Pemasaran, serta Tommy Wahyudi (21), Jimmy Wahyudi (21), dan Darmadi (20), ketiganya mahasiswa jurusan Managemen Perkantoran Perguruan Tinggi Cendana Medan.

 

Usai berjalan kaki sekira 135 km Medan-Siantar, dengan start keberangkatan Jumat (20/3) lalu, Minggu (22/3) kemarin, mereka kembali start berangkat dari Kota Siantar setelah menginap semalam di Siantar, menuju Kota Siantar. Kali ini, mereka tak lagi ngoyo melakukan perjalanan seperti dua hari sebelumnya, yang menempuh waktu sekitar 65 km lebih per hari. Apalagi, medan perjalanan ke Parapat agak lebih berat, ada mendaki di sana dan menurun di sini.

 

“Kita santai saja. Kalau mau istirahat… kita istirahat. Tak perlu buru-buru. Karena kita juga ingin menikmati proses perjalanan itu sendiri,” kata Nugroho, saat berkunjung ke Kantor METRO, Senin (23/3) pagi.

 

Selama dalam perjalanan yang sudah semakin berat, karena stamina mereka relative sudah menurun, mereka saling memotivasi satu sama lain. Untuk memompa semangat agar terus berkobar, mereka terkadang bernyanyi bersama dengan musik yang diputar lewat handphone.

 

Apa saja kesan-kesan selama perjalanan?

“Wah, banyak. Antara lain, kita menemukan bahwa selain kaya sumber daya alam, bangsa kita juga sangat ramah. Memang keramahan bangsa kita ini sudah menjadi pengetahuan umum, tapi dalam perjalanan ini, kita sekali lagi membuktikannya,” kata Nugroho.

 

Ia mencontohkan, saat mereka singgah di kedai yang sebenarnya tidak buka karena sedang ada kampanye partai di daerah mereka, pemilik kedai menolak menerima bayaran untuk jasanya mengupas dan menghidangkan salad apel kepada anggota ekspedisi jalan kaki ini. “Mereka benar-benar menolak lo,” kata Nugroho.

 

Ada juga pemilik warung yang menolak menerima bayaran, untuk peniti yang mereka butuhkan. “Wah, pokoknya keramahan itu sangat terasa. Kalau di kota, itu sudah sulit ditemukan,” katanya dengan sorot mata berbinar.

 

Saat mobil yang membawa perlengkapan mereka terperosok ke lubang, sekitar 14 kilometer menjelang Parapat, warga setempat suka rela membantu mengeluarkannya.

 

“Selain sumber daya alam yang kita miliki, bangsa kita nyata-nyata memiliki hati. Kualitas ini patut didukung dengan pendidikan yang baik, sehingga bangsa kita memiliki ini (sambil menunjuk ke otak) dan ini (sambil menunjuk ke dada). Kalau keduanya sudah dimiliki, bangsa kita pasti akan maju,” kata Nugroho.

 

Anggota tim ekspedisi Jalan Kaki Medan-Parapat, Samsudin (21) yang ditanya soal kesan-kesannya, mengatakan sangat bersemangat menyelesaikan misinya, khususnya menempuh rute Siantar-Parapat. Apalagi rute ini relatif lebih sejuk dibanding rute-rute sebelumnya. “Khusus saat melewati hutan (Harangan Ganjang, Red) menuju Parapat, kami semua mampu berjalan kaki tanpa berhenti sepanjang 5 km, karena segarnya udara. Kami semua sangat bersemangat,” katanya. Dan yang pasti, ia langsung menari setibanya di Kota Parapat.

 

Darmadi, peserta lainnya, juga mengaku sangat senang berhasil menyelesaikan misi, mampu menaklukkan rasa capek, panas, polusi, kaki kram, dan sebagainya. Apalagi, ini kali pertama dirinya ikut event jalan kaki smapai 180 km.

 

Hanya saja, Darmadi memiliki pengalaman yang membuatnya sedikit sedih. Ia kehilangan handphone miliknya, di suatu tempat yang tak diketahui. “Mungkin tinggal di kedai, atau jatuh dari kantong saat berlari. Rasanya waktu itu benar-benar sedih,” tuturnya.

 

Untungnya, tentornya, Nugroho, menghiburnya dengan kata-kata bijak, yang membuatnya akhirnya merelakan hp-nya. “Masak barang seharga Rp2 juta menghilangkan kebahagiaanmu? Seharusnya, harga kebahagiaanmu itu senilai Rp2 miliar,” cetus Nugroho menyemangatinya.

 

Setelah merenungkan kata-kata bijak itu, Darmadi akhirnya memilih ‘keep smile’, tetap tersenyum. Bahkan, ia akhirnya mampu mengiklaskan handphonenya, dan mengharapkan orang yang menemukannya dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya.

 

Si kembar Tommy Wahyudi dan Jimmy Wahyudi sama-sama mengaku bersemangat. Dengan wajah berbinar ceria dan kulit wajah yang kemerahan kena papar matahari, keduanya mengaku belajar saling memotivasi, agar tetap semangat menyelesaikan perjalanan. Tommy bahkan langsung telepon orangtua dan teman, kasih kabar bahwa mereka selamat sampai tujuan. “Dan tak lupa, langsung foto-foto,” kekehnya dengan senyum dikulum.

 

Sedangkan Felick, mengaku bangga pada diri sendiri karena berhasil membuktikan pada teman-teman bahwa mereka berhasil menyelesaikan misi. “Awalnya, ortu dan teman-teman kan ragu kami, terutama saya, apakah akan mampu berjalan kaki Medan-Parapat. Apalagi dengan tubuh saya yang besar ini (posturnya lebih menonjol dibanding teman-temannya). Setelah tiba di Parapat, mereka tanya, ‘Kamu sudah kurus? Turun berapa kilo?’ Hehehehe….! Tapi bagi saya, ini pencapaian yang luar biasa dalam hidup saya, dan pasti juga bagi teman-teman lainnya. Jadi, saya sangat senang telah melakukan dan menyelesaikannya,” cetusnya bersemangat.

 

Yang pasti, keenamnya penuh sukacita setiba di Parapat, sambil berteriak: “Yes yes yes, akhirnya kita melakukannya!” Ada yang jingkrak-jingkrak kayak monyet Sibaganding, ada yang berteriak, ada yang lompat, menari, dan sebagainya. Semua penuh semangat karena telah berhasil menyelesaikan tantangan.

 

Di akhir pertemuan, Nugroho mengatakan, ada nilai lain yang diperolehnya dalam perjalanan itu. Saat itu, setelah mereka berada di Parapat, dirinya melihat pool bus Sejahtera, dan melihat bus-bus sedang diservis, di-tune up. Dan ia mendapat pelajaran, hidup pun perlu diservis usai melakukan sejumlah kegiatan. Hal itu agar kita mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik ke masa mendatang. (*)

→ Leave a CommentKategori: Catatan Kaki