Dameambarita’s Weblog

Masih Seputar Vihara Avalokitesvara Terbakar

14 Mei 2008 · 1 Comment

6 Orang Diselamatkan dari Lubang Angin

SIANTAR-METRO

Banyak kisah menyedihkan saat musibah kebakaran Vihara Avalokitesvara di Jalan Sipiso-piso Kelurahan Pematang Simalungun Kecamatan Siantar Selatan, Pematangsiantar, Minggu (11/5) dini hari. Salahsatunya, upaya warga menyelamatkan penghuni vihara. Misalnya saja, saat enam penghuni yang diselamatkan keluar dari lubang angin di lantai dua vihara.

 

Warga sekitar vihara yang ditemui METRO tadi malam menerangkan, Minggu dini hari itu mereka ikut panik. Apalagi api yang membakar vihara terbesar di Pematangsiantar itu semakin besar.

 

Sangkot, salahseorang warga menuturkan, saat itu ia panik mencari keluarganya yang melihat kebakaran. Saat sedang berkeliling, ia melihat ada enam orang di lantai II vihara berusaha menyelamatkan diri di tengah kepulan asap. Sangkot pun berlari masuk dari pintu depan dan merusak salahsatu dinding bangunan dengan besi yang diambil dari rumahnya. 

 

Lalu Sangkot memecahkan ventilasi (lubang angin) vihara menggunakan besi. Kemudian ia masuk ke gedung dan menyelamatkan enam orang yang ada di atas genteng dengan cara menggendong dan mengeluarkannya dari lubang angin yang sudah dirusaknya.

 

Warga lainnya, Sinaga mengatakan dirinya sangat jelas melihat ada satu orang penghuni vihara melompat dari lantai tiga dan mendarat di dekat jemuran rumahnya. Orang itu diketahui bernama Acai dan merupakan karyawan di vihara yang bertugas sebagai tukang masak dan mengatur dekorasi vihara. Oleh warga, Acai ditolong dan dibawa ke rumah sakit.

 

Masih kata Sinaga, telapak kaki kiri Acai terbelah. Kemungkinan besar terkena tali jemuran. Sedangkan kaki kanannya patah. “Saat Acai melompat, saya sudah keletihan mengangkati barang. Lalu saya memanggil beberapa pemuda untuk menolong Acai,” tambahnya.

 

Sementara salahseorang ibu mengaku melihat dua orang melompat dari lantai tiga vihara ke arah rumah warga. Kedua orang yang melompat itu, katanya, mengalami luka cukup parah dan semuanya di larikan ke rumah sakit.

 

Sedangkan warga yang lain, Afo mengatakan, ketika nyala api mulai reda, warga masih terus menyirami sisa api yang masih berkobar. Saat itulah ia melihat sesosok wanita tua berlari-lari di lantai tiga dan berusaha minta tolong. Melihat itu, Afo berusaha masuk melalui jendela yang dibongkarnya dan menyelamatkan wanita tersebut, yang kemudian diketahui bernama Ahyong, warga Binjai. “Ahyong yang ketakutan menolak digendong. Tapi kemudian dia mau,” katanya.

 

Katanya, tas yang dipegang Ahyong sempat terjatuh. Namun kemudian diambil Afo dan diberikan kepada Ahyong. “Saat menggendong Ahyong, saya berusaha menahan hawa panas. Untung kemudian datang orang lain menjemput ke atas,” katanya.

 

Warga yang lain tak mau kalah. Katanya, ia melihat ada orang terjatuh dari vihara ke rumah warga. Untungnya, ada warga yang melihat korban terjatuh dan tidak berdaya. Orang itu pun langsung ditolong warga yang lain.

 

“Usianya sekira 65 tahun. Perempuan itu diperkirakan berusia 65 tahun itu, dan kondisinya sangat memprihatinkan. Ia mengalami luka di kaki, mulut, dan kepala. Kemudian ada warga membopongnya ke ambulans milik rumah sakit yang sudah stand by di lokasi. Seterusnya dilarikan ke rumah sakit,” paparnya.

Orang yang terjatuh tersebut kepada warga mengaku warga Tandem, Binjai.

 

Disangka Petasan

Beberapa warga yang berkumpul tadi malam mengatakan, mereka memang sempat mendengar suara ledakan dari dalam kompleks vihara. Awalnya mereka menyangka suara petasan. Namun karena asap mulai mengepul, beberapa pemuda yang kebetulan begadang, berusaha mengintip ke dalam lokasi vihara dengan memanjat pagar. Saat itu mereka melihat api mulai berkobar di dalam vihara dan para penghuni berlarian.

 

“Kami kebetulan saat itu begadang. Kami mendengar ledakan dari dalam vihara. Kami piker suara petasan. Tapi kami melihat asap semakin mengepul, dan kami pun berusaha melihat ke dalam gedung. Ternyata api mulai membakar lantai dua,” aku Anto, salahseorang pemuda.

 

Beberapa pemuda kemudian membangunkan warga yang tinggal di sekitar vihara dibantu salahseorang ibu yang terlebih dahulu terbangun karena mendengar rebut-ribut dari vihara. Saat warga sudah banyak terbangun, mereka berusaha menyelamatkan barang-barang dari dalam rumah masing-masing. Sementara warga lainnya ikut menyirami api dengan air dan menyelamatkan orang-orang yang melompat dari vihara. Bahkan beberapa warga merelakan bagian rumahnya dirusak untuk menghindari api semakin menjalar.

 

Bantah Menjarah

Warga sekitar juga membantah telah melakukan penjarahan di vihara. Disampaikan mereka, saat itu seluruh warga sekitar tidak terpikir mengambil barang dari vihara ataupun rumah warga lainnya. Sebab saat itu semuanya panik dan berusaha menyelamatkan barang di rumah masing-masing, menyirami api, dan menyelematkan penghuni vihara yang melompat.

 

“Tidak ada kami melakukan penjarahan. Itu tidak benar,” kata warga hampir bersamaan.

 

5 Jenazah Dikremasi

Lima jenazah korban terbakarnya Vihara Avalokitesvara dikremasi (dibakar), di Crematorium Di Zang Dian, di Tanjung Morawa, Km 12 Kabupaten Deliserdang, Selasa (13/5). Kelima jenazah tersebut yakni Bhiksu Yu Chien (60), guru agama Buddha Sujad Widodo (48), Ai Chin (35), Ai Nie (34) serta Chin Hang (60).

 

Saat ritual kremasi, keluarga korban serta teman sejawat memanjatkan doa bagi lima jenazah yang dimasukkan dalam peti. Acara sembahyang dipimpin bhiksu yang datang dari Singapura.

 

Ritual itu diisi alunan doa-doa yang dipanjatkan sejumlah bhiksu yang secara khusus datang dari Singapura, Thailand, Malaysia, Jakarta, serta seluruh bhiksu di Pulau Sumatera. Meski mengaku tidak kenal dekat dengan kelima korban, para bhiksu mengaku sedih.

 

“Setiap orang akan mengalami kematian. Namun kita harus tetap berdoa kepada sang Maha Pencipta. Kematian adalah hal yang tidak asing dengan kehidupan. Untuk itu kita harus siap menghadapinya,” sebut Bhiksuni bernama Wiraguna dari Vihara Vilokasiva, Wifena Graha, Jakarta.

 

“Tidak ada acara khusus dalam ritual ini. Ini ritual umum dalam kegiatan kremasi. Jika ada kematian, kegiatan ini dilakukan,” tambah bhiksuni yang mengenakan kaca mata minus ini.

 

Bhiksu lain yang tidak mau disebut namanya mengaku khusus datang dari Jakarta. Katanya, kegiatan kremasi untuk menghormati para jenazah dan sebagai penghormatan terakhir.

 

Usai ritual doa, sanak saudara kelima korban memasuki ruangan khusus. Di ruangan itu mereka hanya duduk-duduk menunggu kremasi usai. Diperkirakan, kremasi membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Kremasi sendiri dilakukan di dalam tungku khusus dengan tekanan api yang sangat tinggi.

 

Bhiksu Yu Chien, Baru 2 Tahun Ditahbiskan

Bhiksu Yu Chien (69) merupakan satu dari tujuh korban tewas dalam musibah kebakaran Vihara Avalokitesvara. Ia baru diangkat menjadi bhiksu sekitar dua tahun lalu, namun sudah sejak 29 tahun lalu, atau saat berusia 40 tahun, Bhiksu Yu Chien sudah tinggal di Vihara Avalokitesvara.

 

Pengurus Vihara Avalokitesvara, Chandra kemarin menerangkan, sebelum diangkat menjadi bhiksu, Yu Chien bekerja membantu-bantu kegiatan operasional di vihara, baik kegiatan ibadah maupun lainnya. Selama ini, katanya, Bhiksu Yu Chien dikenal sangat giat.

 

“Bhiksu Yu Chien sudah pernah menikah, dan punya anak. Istrinya menetap di Jakarta dan anaknya di Medan. Tapi ketika usianya 40 tahun, ia memutuskan untuk menghabiskan hidupnya dengan beribadah,” terang Chandra.

 

Masih kata Chandra, untuk menjadi bhiksu, seseorang biasanya harus sekolah untuk menghafal seluruh ayat-ayat Buddha. Berbeda dengan biksu Yu Chien, yang bisa ditahbiskan sebagai bhiksu hanya dengan ketekunannya belajar tanpa sekolah.

 

Sujad Widodo Tiap Sabtu Ajak Siswa ke Vihara Avalokitesvara

Sujad Widodo (48), salah satu korban tewas dalam kebakaran Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar dinilai sebagai sosok yang patut diteladani. Di mata rekan guru dan siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Agung Pematangsiantar, guru agama Buddha tersebut dikenal sangat baik dan ramah. Namun yang paling diingat, setiap Sabtu, Sujad selalu mengajak siswanya beribadah ke Vihara Avalokitesvara, yakni vihara yang menjadi tempat ia meregang nyawa.

 

Sanny Halim, siswa kelas III SMA Sultan Agung yang ditemui di Yayasan Bhakti Kesejahteraan Sosial (YBKS) Jalan Cokroaminoto Pematangsiantar kemarin mengaku sangat berduka atas musibah kebakaran Vihara Avalokithesvara, yang mengakibatkan salahseorang gurunya tewas

 

Dalam pandangan Sanny dan rekan-rekannya, Sujad Widodo merupakan sosok guru yang baik. “Makanya kami sangat merasa kehilangan,” tambah Silvya, siswi kelas III SMA Sultan Agung.

 

Siswi lainnya, Theresia mengakui Sujad sebagai guru yang baik. Bahkan ia mengaku memiliki kesan tersendiri terhadap guru tersebut. Kesan itu, katanya, berupa kegigihan Sujad Widodo yang selalu mengajarkan pemahaman tentang hidup melalui ajaran Buddhist. “Bahkan setiap hari Sabtu, Pak Sujat Widodo tidak lupa mengajak siswa mengadakan kebaktian di vihara yang terbakar itu,” sebutnya.

 

Sedangkan Silvina, siswi kelas I SMA Sultan Agung mengatakan Sujad tidak pernah marah kepada siswanya. Padahal, Silvina yakin, almarhum pasti pernah dibuat kesal oleh ulah siswanya.

 

“Ya itulah dia. Tidak pernah marah, selalu baik dan tidak sombong, sopan, ramah, dan selalu bersedia memberikan masukan,” ujar Silvina. Bagi siswa yang rajin mengikuti kebaktian, tambah silvina, Sujad selalu memberi tambahan nilai.

 

Hal senada juga disampaikan rekan Sujad, sesama guru agama Buddha di SMA Sultan Agung, Widianto. Menurutnya, kepergian Sujad membuat mereka sangat kehilangan sosok yang supel dan tidak pandang bulu dalam bergaul.

 

Sebelum Sujad pergi untuk selamanya, Widianto merasa prilaku rekannya itu tidak seperti biasa. Misalnya, ketika rapat untuk peringatan Waisak di sekolah mereka, saat itu almarhum menyalami setiap orang. Bahkan sebelum rapat pun, almarhum sudah menyalami para guru.
”Terkesan, salaman itu menunjukkan tanda dirinya pamit untuk pergi,” kata Widianto.

 

Ditambahkannya, sebenarnya Sujad Widodo dihunjuk Departemen Agama (Depag) agar mengajar di Kisaran Kabupaten Asahan. Namun almarhum berusaha tetap mengajar di Pematangsiantar, dengan mencoba mendaftar ke Depag di Jakarta.  “Tapi almarhum tetap melaksanakan tugas mengajar di Kisaran pada hari-hari tertentu,” katanya.

 

Guru lainnya, di Yayasan Perguruan Manjusri, Nur Aini (2 8) dan Novita Hutagaol (31), mengatakan almarhum Sujad dikenal periang dan humoris. “Seperti terlihat di foto itu,” kata Novita sembari menunjuk foto di depan peti jenazah almarhum. Dalam foto itu, Sujad memang tersenyum.

 

Selain itu, tambah Novita, almarhum merupakan sosok yang aktif dan rajin. Jadi, tidak berlebihan bila almarhum mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan. “Orangnya dikenal sangat baik. Selain dekat dengan sesama guru, almarhum juga dekat dengan para anak didik,” katanya.

 

Nur Aini, yang merupakan guru komputer mengaku selalu menjadi orang pertama yang disapa almarhum setiap datang ke sekolah.  “Saya memang orang yang selalu pertama disapa Bapak itu semasa masih hidup,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Selain kedua guru itu, Haimin, pelajar kelas III SMP Budhis Manjusri mengatakan almarhum adalah orang yang periang dan suka bercanda. Dia juga suka bergabung dengan para pelajar.  “Kami merasa kehilangan sosok Pak Widodo. Dia baik sekali,” ujarnya, juga dengan mata berkaca-kaca.

 

Sementara istri almarhum, Nurhayati (42) mengatakan suaminya adalah sosok yang tegas namun murah senyum. Selama sekitar tujuh tahun bertugas di Siantar, suaminya memang tinggal di Vihara Avalokitesvara. Di Siantar, katanya, suaminya mendapat tugas dari Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi). “Selama di Siantar, almarhum hanya pulang saat libur panjang,” sebutnya.

 

Dari Nurhayati, almarhum memiliki dua anak yakni Abi Manyu (7) dan Punto Dewo (4). Nurhayati yang selama ini tinggal terpisah dengan suaminya karena ia menetap di Tangerang dan bekerja di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita Tangerang itu, mengaku tabah menghadapi cobaan ini, meskipun ia harus kehilangan suami dan ayah anak-anaknya.

 

Nurhayati juga mengaku tidak memiliki firasat apapun sebelum musibah terjadi. Hanya saja, katanya, dalam tidurnya Sabtu (10/5) malam itu, ia bermimpi melihat suasana seperti di film India, yakni banyak bunga-bunga.(mag-01/dro/btr)

→ 1 CommentCategories: Berita

Pengirim SMS Santet Ditangkap

14 Mei 2008 · No Comments

Motif: Hanya Iseng

 

RIAU-METRO

Begitu SMS santet yang meresahkan warga berseliweran, Depkominfo berkoordinasi dengan para operator selular untuk mengungkap siapa sosok di baliknya. Koordinasi itu berbuah manis. Si pengirim awal SMS tersebut terdeteksi.

 

“Orangnya (pengirim awal) sudah ketemu. Sudah diamankan kepolisian Riau,” kata Kabag Humas Ditjen Postel Depkominfo Gatot S Dewabroto, Selasa (13/5).

 

Siapa orang itu? “Itu kewenangan polisi untuk menjawab,” jawab Gatot.

 

Ditambahkan dia, karena telah menimbulkan keresahan di masyarakat, maka si pengirim awal SMS santet itu akan diproses pidana oleh aparat yang berwenang.

 

Menurut Gatot, setelah berkoordinasi dengan para operator di Tanah Air, pihaknya segera melokalisir. Setelah itu, dilaporkan kepada pihak kepolisian dan kejaksaan. “Di setiap nomor seluler kan ada local number-nya jadi bisa diketahui di daerah mana. Kick off-nya diketahui dari daerah Riau. Saat pelacakan terkendala registrasi karena tidak valid, tapi akhirnya bisa ditemukan juga,” tutur dia.

 

Apa alasan pelaku mengirimkan SMS Santet tersebut? Ternyata motif pengiriman SMS hanya iseng belaka. “Kalau motif, informasi yang kita terima karena iseng saja,” kata Kabag Humas Ditjen Postel Depkominfo Gatot S Dewabroto.

 

Dengan tertangkapnya orang tersebut, maka terbukti sudah tidak benar ada SMS yang bisa menyantet orang. “Sudah terbukti sekarang, kemarin orang yang sakit setelah baca SMS bukan karena santet,” lanjut dia.

 

Menurut Gatot, si pengirim awal SMS santet itu sengaja memanfaatkan keresahan masyarakat dengan medium telepon selular. Dengan tertangkapnya orang tersebut juga mementahkan dugaan operator selular ingin menaikkan traffic.

 

“Dia menggunakan data palsu, jadi agak terkendala. Tapi operator punya alatnya (untuk melacak). Itu satu orang saja (yang melakukan),” terang Gatot.

 

Namun kabar penangkapan tersangka pengirim SMS santet ternyata belum bisa dipastikan kebenarannya. Polda Riau membantah telah mengamankan tersangkanya. Padahal seperti yang diungkapkan Kabag Humas Ditjen Postel Depkominfo, Gatot S Dewabroto, pengirim awal SMS yang telah meresahkan masyarakat itu telah diamankan Kepolisian Riau.

 

Namun saat dikonfirmasi, jajaran Polda Riau membantah kabar tersebut. Sebaliknya, mereka justru mendengar kabar sang tersangka ditangkap oleh Polda Kepulauan Riau (Kepri). “Itu (penangkapan pengirim SMS santet) di Polda Kepri. Pelakunya kalau tidak salah saya dengar anak SMA,” ujar Wadir Reskrim Polda Riau AKBP Luki Arliansyah di kantornya, Jl Sudirman, Pekanbaru, Selasa (13/5).

 

Informasi penting ini pun kemudian ditindaklanjuti para wartawan di Riau dengan menghubungi Polda Kepri. Namun alih-alih mendapat kepastian, Polda Kepri malah mengaku tidak tahu menahu soal penangkapan tersangka pengirim SMS santet itu. “Memang ada isu penangkapan tersangka SMS santet, tapi sampai saat ini kami belum tahu menahu. Tim yang kami bentuk untuk menangani kasus ini belum memberikan laporan resmi soal penangkapan,” ujar Kadispen Polda Kepri AKBP Anggria Lupis.

 

Saat ditanya bahwa pelaku dikabarkan masih duduk di bangku SMA, Anggria kembali mengaku tidak tahu. “Ya itu tadi, kami belum tahu apa-apa,” ujar Anggria.

 

Sementara itu, bermacam-macam dugaan mencuat mana kala SMS santet yang meresahkan muncul dan beredar. Operator telepon selular juga dituding berada di balik munculnya SMS tersebut karena alasan meningkatkan traffic. “Salahsatu operator mengeluh dapat apes dengan adanya SMS itu. Apalagi harus berkali-kali menjelaskan kepada publik dan mendapat keluhan,” kata Kabag Humas Ditjen Postel Depkominfo Gatot S Dewabroto.

 

Setelah dilakukan penelusuran, SMS santet tersebut ternyata dikirim dari nomor telepon selular daerah Riau. “Awalnya dikirim dari nomor 0812. Disebut-sebut juga nomor 0866 yang dianggap milik Natrindo Telekomunikasi Selular (NTS) Axis, padahal nomor mereka kan awalnya 083,” tutur Gatot.

 

Begitu SMS santet itu beredar, Depkominfo pun menyampaikan surat kepada para operator di Tanah Air agar mengoptimalkan call center-nya. Tujuannya adalah agar isu SMS santet itu tidak berkembang liar. “Jadi tidak hanya Telkomsel saja (yang dikirimi surat),” sambung dia.

 

Gatot juga mengimbau publik agar memasukkan data yang valid manakala melakukan registrasi pelanggan telepon selular. “Warning bagi yang memasukkan data palsu, bila ketahuan maka bisa dinonaktifkan nomornya,” sambungnya.

 

Dia juga mengingatkan pihak operator agar cepat melakukan validasi. Bila lambat, maka citra operator juga yang akan jatuh.

 

Aturan registrasi pelanggan telepon selular diatur dengan Peraturan Menteri Nomor 23/Kominfo/M/10/2005 tentang Kewajiban Registrasi Pengguna Prabayar dan Pascabayar. Registrasi yang tidak dipungut biaya ini bertujuan untuk menghindari penyalahgunaan SMS, seperti untuk tindak kriminal, adu domba, dan pencegahan terorisme. (dc)

 

→ No CommentsCategories: Berita

Pakar TI: Ponsel Tak Bisa Dijadikan Media Mistik

13 Mei 2008 · 2 Comments

4 Orang Pingsan Terima SMS Santet

 

JAKARTA-METRO

Sejauh ini, teknologi seluler belum dapat digunakan untuk media klenik seperti santet. Teknologi informatika dinilai cukup rumit untuk dijadikan alat mistis.

 

“Nggak bisa. Nggak nyambung. Satu logis, satu irasional,” kata anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi, Senin (12/5).

 

Oleh karenanya, masyarakat diminta tidak resah. Rumor itu hanya dilakukan orang yang ingin memanfaatkan situasi untuk keuntungan pribadi. “Jadi kan nggak boleh menerima SMS dari nomor tertentu. Ini hanya menguntungkan satu dua orang saja,” imbuhnya.

 

Heru juga tidak menampik adanya kemungkinan bahwa SMS meresahkan itu hanya bentuk persaingan bisnis antar-operator ponsel. “Bisa saja untuk mengganjal operator baru. Kan SMS-nya nggak boleh menerima SMS dari nomor tertentu. Ini (gara-gara) persaingan yang kurang sehat,” katanya.

 

Kendati demikian, BRTI terus mengupayakan munculnya operator-operator baru di dunia seluler. Sebab, dengan makin banyaknya operator baru, harga akan turun dan konsumen yang diuntungkan.

 

Beberapa hari terakhir, masyarakat mulai diresahkan SMS santet itu. Beberapa orang yang mengaku pernah SMS tersebut mengaku seperti tersugesti. Lantas terhipnotis dan kejang-kejang seperti kesurupan.

 

4 Orang Pingsan

Sementara itu, SMS santet juga heboh di Sumatera Selatan. Di Ogan Komering Olu (OKU) Timur, 4 orang pingsan sesaat setelah membaca pesan singkat tersebut.

 

Peredaran SMS santet itu diakui Kapolres OKU Timur AKBP Yosi Hariyoso. Menurut dia, isu SMS santet sudah sangat meresahkan warga OKU Timur.

 

Berdasarkan catatan pihak kepolisian, sudah ada 4 orang yang pingsan sehabis membaca SMS santet tanpa alasan yang jelas. Namun Yosi membantah, korban pingsan karena benar-benar disantet. “Itu karena mereka tidak dilandasi kekuatan iman, sehingga dihantui perasaan was-was dan takut. Akibatnya mereka yang menerima dan membaca SMS tersebut mentalnya langsung turun dan trauma sehingga tidak sadarkan diri,” ujarnya kepada wartawan di Muaradua, OKU Timur, Minggu (11/5).

 

Untuk itu Yosi mengimbau agar masyarakat tidak perlu panik bila menerima SMS semacam itu. SMS tersebut tidak benar dan tidak jelas kebenarannya. “Masyarakat kita minta untuk tidak panik dan tidak perlu berlebihan menyikapi isu SMS yang jelas tidak benar tersebut,” katanya tanpa mengungkap identitas 4 korban pingsan yang dimaksud.

 

Pengalihan Perhatian Menjelang Pemilu

Merebaknya SMS santet dimanfaatkan golongan tertentu untuk menimbulkan keresahan masyarakat. Isu yang berbau mistis umum terjadi menjelang Pemilu.

 

“Hal ini menunjukkan gejala yang sangat nyata, masyarakat Indonesia sangat percaya dengan hal-hal yang imajiner atau khayalan. Lalu karena banyak masalah di masyarakat, upaya ini sangat efektif untuk menimbulkan keresahan,” kata pengamat intelijen AC Manullang, Minggu (11/5).

 

Pria yang juga mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) ini menjelaskan, berdasarkan data intelijen, gejala-gejala ini umumnya dimunculkan kelompok yang sudah terorganisir. Dan kelompok ini senangnya menggunakan isu yang imajiner. Maklum saja, masyarakat Indonesia sangat peka dengan hal-hal yang berbau mistik.

 

“Ini persoalan masalah kepercayaan. Di sinilah isu ini dikembangkan supaya masyarakat kacau balau dan berimbas kepada terancamnya keamanan dan ketertiban di negeri ini,” imbuh dia.

 

Manullang mengimbau, hendaknya masyarakat waspada. Apalagi saat ini teknologi semakin canggih. Masyarakat dinilai belum siap menghadapi proses adaptasi. “Jadi tidak perlu ditanggapi karena itu isu yang dikembangkan masyarakat,” imbau penulis buku Menguak Tabu Intelijen: Teror, Motif dan Rezim ini.

 

Menurut Manullang, gejala-gejala mistik seperti ini tidak hanya sekali terjadi. Bahkan menjelang pemilu 2004 masyarakat digegerkan isu kolor ijo. “Ini yang harus dilakukan intelijen, sebelum terjadi dengan menangkalnya. Ada hal-hal yang mungkin timbul sebelum pemilu tapi jangan sampai terjadi,” pungkas dia.

 

Menelusuri Pembuat SMS Santet

Pesan pendek (SMS) gelap yang berisi ancaman hingga meninggal dunia (SMS santet), dapat ditelusuri ke pembuatnya. Masyarakat yang mengaku pernah menerima, dapat melapor ke pihak berwajib untuk diselidiki lebih lanjut.

 

“Kalau ada SMS meresahkan seperti ini, tinggal ditelusuri saja siapa pembuatnya. Itu bisa dilakukan, kok,” kata anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi, Senin (12/5).

 

SMS santet itu mengalami modifikasi berulang kali dan tersebar seantero Nusantara. Misalnya ada yang berbunyi, “Kalo ada telepon yang NOMOR BERWARNA MERAH jangan diangkat karena bisa menelan jiwa. Hari ini sudah disiarkan diberita, terjadi di Jakarta dan Duri dan sudah terbukti. Sekarang masih diusut oleh pihak KEPOLISIAN. Dugaan sementara adalah kasus PEMBUNUHAN JARAK JAUH MELALUI TELEPON GENGGAM (HP) oleh dukun ILMU HITAM / si penelepon adalah ROH GENTAYANGAN yang mencari MANGSA. Harap dimengerti dan kirim ke teman atau saudara semua. Harap saling menbantu sesama umat manusia.”

 

SMS lainnya berbunyi, “Informasi, kalau ada nomor Hp yang 0866 atau 0666 masuk berwarna merah mohon jangan diangkat karena ada virus kematian. Soalnya di Jakarta dan Pulau Bengkalis sudah ada yang meninggal gara-gara masalah ini, orang bilang lagi uji ilmu hitam sekian sekilas info.”

 

Ada juga yang berbunyi, “Usahakan besok dari pukul 9 sampai 1, jangan aktifkan hp. Karena radisi Ring In Red (infra red level tinggi, 0866) benar dapat membawa si penerima SMS tewas karena rusak saraf. Waspadai sampai WHO menyatakan aman”.

 

Meski pesan berantai itu sudah beberapa kali diteruskan (foward) oleh penerima pertama, bukan berarti tidak bisa diselidiki. Teknik untuk menelusuri itu terbilang mudah. Dan bila ketemu, polisi bisa mempidanakan pelaku. “Itu teknis saja. Ada teknologinya menelusur. Kalau ketemu, polisi bisa bertindak,” tandas Heru Sutadi.

 

Agar tak berurusan dengan polisi, ada baiknya forward SMS itu distop! (dc)

→ 2 CommentsCategories: Berita

Wanita 65 Tahun Selamat setelah 4 Jam Terperangkap Api

12 Mei 2008 · 1 Comment

SIANTAR-METRO

Ahong, wanita 65 tahun membuat banyak orang terharu dan memeluknya. Bagaimana tidak, warga Kota Binjai itu selamat setelah sekitar empat jam terperangkap dalam ruangan yang terbakar di Vihara Avalokitesvara.

 

Api yang berkobar selama sekitar empat jam serta suara ricuh warga ditambah suara sirene pemadam kebakaran di Vihara Avalokitesvara, Minggu (11/5) membuat teriakan Ahong dari ruangan di lantai III tak terdengar. ‘Kode’ dari Ahong yang kemarin mengenakan pitama merah jambu bermotif bunga, berupa ketukan batu di lantai keramik, baru terdengar setelah api mulai padam.

 

Saat petugas menemukannya, Ahong tampak sesak nafas. Sambil menenteng tas tangan hitam, ia segera merangkul petugas yang menghampirinya. Kepada petugas, Ahong menuturkan, saat api mulai berkobar, ia berada di kamar tamu vihara, dan berusaha menyelamatkan diri bersama beberapa penghuni lainnya.Karena panik dan bingung, para penghuni berpencar. Ahong sendiri masuk ke salahsatu kamar di sudut kiri kamar pegawai. Sedangkan penghuni lainnya tak diketahui Ahong, karena ia tak dapat melihat akibat kepulan asap semakin menebal.

 

Saat hendak masuk ke kamar, sepintas Ahong melihat ada seseorang terjatuh di lorong kamar yang sudah dilalap api. Ahong pun semakin ketakutan. Apalagi rambutnya sempat disambar api. Untung berhasil dipadamkannya.

 

Ketika itu, Ahong melihat sesosok tubuh itu berteriak meminta tolong, lalu terjerembab ke lantai, dan tidak bersuara lagi. “Saat jatuh, orang itu masih berteriak. Tapi hanya sebentar. Lalu tak bersuara. Kemudian api menjalar di tubuhnya. Sudah gosong dia di sana,” katanya saat dibopong warga.

 

Ahong makin panik. Ia hanya mendengar desis api yang berkobar serta sirene pemadam kebakaran, dan suara warga sayup-sayup. Diakuinya, beberapa kali ia tertimpa genteng yang jatuh dari atas. Genteng-genteng itu mengenai punggungnya, dan terasa sakit.

 

Ia tak tahu sudah berapa lama merunduk di kamar. Ketika suara sirene dan warga yang berteriak semakin jelas, ia berusaha berdiri dan keluar kamar sembari berteriak. Sayangnya, tak seorang pun mendengar.

 

Lalu Ahong berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dan keluar kamar. Ia sudah berhasil berada di lorong kamar tempat tinggal para pegawai. Hawa panas yang begitu menyengat tidak dihiraukan. Ia berusaha menuju cahaya, namun hanya cahaya kecil yang terlihat dari celah lorong.

 

Kemudian Ahong bersandar pada tembok yang terasa panas dan berusaha mencari benda- benda yang dapat dijadikannya untuk memberi tanda atau kode. Setelah beberapa meter berjalan, ia menemukan batu. Dengan batu itu ia mengetuk-ketuk lantai keramik. Setelah beberapa kali mengetuk, sayup-sayup terdengar suara yang mengatakan ada orang di lantai tiga. Merasa ada harapan, Ahong berusaha sekuat tenaga untuk membuat ketukan semakin keras. Padahal saat itu tubuhnya sudah lemah dan napasnya sesak.

 

Akhirnya ia merasa tubuhnya terkena semprotan air. Ia pun berusaha merangkak keluar. Ternyata sudah ada orang yang hendak menjemputnya.

 

Proses penjemputan Ahong oleh petugas kepolisan dan pemadam kebakaran serta pengurus vihara, dua kali gagal karena mereka tak mampu menahan hawa panas di dalam ruangan. Apalagi ruangan di lantai III berupa lorong-lorong. Petugas baru bisa masuk setelah ruangan tersebut disiram air sehingga hawa panas berkurang.

 

Ahong dibopong menuju halaman parkir vihara. Warga yang memadati lokasi tercengang melihat tubuh Ahong yang sudah hitam terkena debu, namun masih hidup. Warga takjub melihat kuatnya daya tubuh wanita yang terbilang tak mudah lagi itu. Ahong pun disambut warga, khususnya dari kalangan Tionghoa dengan tangisan dan pelukan. (mag-01)

→ 1 CommentCategories: Berita

Vihara Avalokitesvara Terbakar, 7 Tewas

12 Mei 2008 · 1 Comment

SIANTAR-METRO

Vihara Avalokitesvara di Jalan Sipiso-piso Kelurahan Pematang Simalungun Kecamatan Siantar Selatan Kota Pematangsiantar terbakar, Minggu (11/5) sekira pukul 00.30 WIB. Dalam musibah itu, 7 orang tewas dan 9 lainnya luka-luka, termasuk pimpinan vihara, Bhiksu Dhyanavira. Sementara kerugian materil diperkirakan mencapai Rp15 miliar.

 

Pantauan METRO di lokasi kejadian sekira pukul 00.50 WIB, kobaran api terlihat di lantai II vihara, yang merupakan ruang ibadah. Dari jarak sekira lima meter, terdengar beberapa kali dentuman keras yang membuat bangunan runtuh dan puing-pung beterbangan. 

 

Api pun cepat menyebar ke seluruh ruangan vihara. Ketika api mulai benjalar ke ruang tempat tinggal pegawai dan perpustakaan di lantai II, terlihat beberapa penghuni vihara berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke sebelah kiri gedung vihara, yang merupakan pemukiman warga.

 

Akibat melompat, mereka mengalami luka dan patah kaki. Segera saja warga yang telah memenuhi pelataran vihara melarikan mereka ke rumah sakit. Sementara api semakin menjalar ke seluruh ruangan di lantai II dan lantai II, hingga ke Pagoda Vihara yang berada di sebelah kiri gedung yang terbakar.

 

Dugaan sementara, kebakaran disebabkan hubungan listrik arus pendek (korsleting) di ruang ibadah. Kebetulan asbes di ruangan tersebut terbuat dari kayu yang dipelitur, sehingga api langsung menyambar asbes. Lalu menjalar ke benda lain di dalam ruangan. Apalagi, dalam ruangan terdapat perlengkapan sembahyang seperti dupa, kertas sembahyang, dan sebagainya. Seketika nyala api semakin besar dan segera melalap hampir seluruh ruangan di lantai II.

 

Tak lama, mobil dan petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi. Enam unit mobil pemadam kebakaran, yakni 4 dari Pemko Siantar, 1 unit milik Pemkab Simalungun, dan 1 unit milik NV STTC diturunkan. Petugas segera berusaha memadamkan api. Namun, karena dini hari itu angin bertiup cukup kencang, sehingga api sulit dipadamkan. Ketika disiram, api semakin menyala dan merembes hingga atap gedung. Sementara, perpustakaan di lantai II dipastikan hangus.

 

Petugas kesulitan menemukan titik asal api. Sebab vihara terbesar di Kota Siantar itu memiliki banyak ruangan. Dua unit mobil pemadam kebakaran yang tiba lebih dulu langsung menyemprot bagian belakang lantai II, namun api tak padam. Sehingga mobil pemadam yang lain langsung masuk ke pelataran vihara melalui Jalan Sipiso-piso. Api baru benar-benar padam sekira pukul 07.00 WIB.

 

Pagi itu juga, petugas pemadam bersama personil polisi dan sukarelawan masuk ke puing-puing bangunan untuk melakukan evakuasi. Ditemukan tujuh orang tewas terpanggang. Mereka yang ditemukan tewas di lantai II yakni Bhiksu Yucen (70) dan Sujadi Widodo (40). Lalu dua karyawan yakni Dian (20) dan Rizal (18). Selain itu, dua bersaudara yakni Aini dan Susanti alias Aicin (43), warga Kota Binjai juga ditemukan tewas. Dan korban tewas yang terakhir ditemukan Chiu Hong (25), juga warga Kota Binjai tepatnya di Pajak Taviv.

 

Pengurus Vihara Avalokitesvara, Chandra, kepada METRO mengatakan pihaknya sudah mengevakuasi seluruh korban. Sesudah diotopsi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Djasamen Saragih Pematangsiantar, seluruh jenazah dibawa ke rumah sosial atau Yayasan Bhakti Kesejahteraan Sosial (YBKS) di Jalan Cokroaminoto Pematangsiantar. ”Kita semua turut berduka atas kejadian ini. Mengenai para korban, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Vihara Avalokitesvara,” tukas Chandra.

 

Chandra menambahkan, saat kebakaran, penghuni vihara yang berjumlah 30 orang sedang beristirahat. Sebab keesokan harinya, Minggu (11/5) sekira pukul 07.00 WIB, dilaksanakan kebaktian menjelang Hari Tri Suci Waisak. Chandra juga mengatakan, vihara tersebut tidak memiliki pintu darurat untuk menyelamatkan diri jika terjadi musibah seperti kebakaran.

 

Penjaga malam Vihara Avalokitesvara, Hanafi, kepada METRO menerangkan, dini hari itu ia berjaga di depan vihara yang menghadap ke Jalan Pusuk Buhit. Tiba-tiba ia mendengar teriakan minta tolong. Ia pun segera berlari menuju ruang induk vihara, yakni Klenteng Phon In Tha. Dari situ ia melihat api membakar lantai II. Ia juga melihat para bhiksu dan bhiksuni dan pekerja lainnya berhamburan keluar dari vihara.

 

Suara Ketukan

Sekira pukul 05.00 WIB, saat kobaran api sudah mulai berhasil dijinakkan, ribuan warga yang memadati lokasi mendengarkan suara ketukan dari salahsatu ruangan di lantai III.

Ternyata ketukan ke lantai keramik itu dilakukan Ahong (65), warga Kota Binjai yang terperangkap di salahsatu kamar di ruangan tempat tinggal karyawan.

 

Petugas pemadam dan polisi yang juga mendengar suara tersebut, langsung menuju ruangan di lantai III. Namun karena asap masik menyelimuti, petugas kesulitan masuk. Setelah bara api yang tersisa disiram, petugas pun bisa masuk ke lantai III. Di lantai tersebut petugas menemukan Ahong terduduk dan sesak nafas akibat kepulan asap. Segera petuags menyelamatkan Ahong. Dari Ahong, diketahui ada beberapa orang yang tewas di lantai III. Ahong sendiri segera dilarikan ke rumah sakit.

 

Berdasarkan dari Ahong, petugas berusaha melakukan evakuasi terhadap korban tewas. Namun, lagi-lagi karena kepulan asap dan hawa panas, evakuasi ditunda.

 

Evakuasi baru bisa dilakukan sekira pukul 07.30 WIB, yang langsung dilakukan Tim Forensik Polresta Siantar dipimpin Kasatreskrim AKP Bustami didampingi Kapolsek Siantar Selatan AKP Robert Gultom. Mereka menelusuri seluruh ruangan di lantai II dan III, dipandu pengurus vihara.

 

Korban tewas pertama yang ditemukan yakni Bhiksu Yuncen (60). Jasadnya ditemukan tergeletak di dekat meja makan di lantai III. Ruangan tersebut merupakan ruang makan para bhiksu. Korban kedua yang ditemukan di lorong kamar tempat tinggal pegawai yakni Widodo (50) guru agama Buddha. Seluruh tubuhnya menghitam. Selanjutnya petugas menemukan jasad Dian (23) dan Rijal (1 8) warga Sei Rapuh Kabupaten Simalungun. Keduanya merupakan karyawan di vihara, dan ditemukan di kamar paling sudut di lantai III. Sedangkan tiga wanita yang merupakan warga Binjai yakni Ong Aini alias Sumarniah (42), Ong Aicin (44), dan Chuchu Hong (65), jasad mereka ditemukan berdempeten di kamar nomor dua di lantai III.

 

Sedangkan korban luka-luka, hingga kemarin belum diketahui identitasnya secara jelas. Informasi dihimpun METRO, korban luka dilarikan ke salahsatu rumah sakit di Medan.

 

Sungai Bah Bolon Tak Bisa Dimanfaatkan

Petugas pemadam kebakaran tidak dapat memanfaatkan air Sungai Bah Bolon yang berada tepat di samping vihara untuk memadamkan kobaran api. Pasalnya, selain kedalaman sungai yang tidak memungkinkan, sungai tersebut juga dipenuhi sampah dan lumpur.

 

Hal ini dikatakan Kapolsek Siantar Selatan AKP Robert Gultom SH yang ditemui METRO di lokasi kebakaran, Minggu (11/5), sekira pukul 03.00 WIB. Robert mengatakan, berdasarkan pernyataan petugas pemadam kebakaran kepada kepolisian, mereka tidak bisa mengambil air di sembarangan tempat untuk memadamkan api. Selain kedalaman air sungai tidak memenuhi standar, dikhawatirkan lumpur ikut tersedot. Selain itu, banyaknya sampah di sungai juga menjadi salahsatu faktor yang membuat petugas pemadam kebakaran enggan mengambil air Sungai Bah Bolon.

 

”Mereka bilang kedalaman air sungai tidak pas untuk dilakukan penyedotan. Selain itu, di Sungai Bah Bolon banyak sampah, dan dikhawatirkan lumpur juga banyak. Jika dilakukan penyedotan ke dalam tangki mobil pemadam kebakaran, bisa-bisa lumpur dan sampah ikut tersedot,” terang Robert.

 

Pantauan METRO, Robert sibuk memberikan arahan kepada bawahannya yang berada di lokasi vihara yang terbakar. Robert juga memerintahkan anak buahnya mengatur warga  agar tidak menghalangi mobil pemadam kebakaran masuk ke lokasi.

 

Saat ditanya jumlah kerugian materil atas kebakaran, Robert mengatakan diperkirakan kerugian akibat mencapai Rp15 miliar. Namun Robert belum mengetahui pasti sumber api.

Api melalap seluruh ruangan di lantai II dan II Vihara Avalokitesvara, seperti ruang ibadahm ruang makan, tempat tinggal pegawai, perpustakaan, ruang perabuan, serta pagoda. Untuk memadamkan api, dibutuhkan 80 tangki air. Api yang sulit dipadamkan yakni di perpustakaan dan ruang perabuan.

 

5 Jenazah Disemayamkan di YBKS

Lima jenazah korban kebakaran disemayamkan di Yayasan Bhakti Kesejahteraan Sosial (YBKS) Jalan Cokroaminoto Kelurahan Baru, Pematangsiantar, Minggu (11/5) mulai pukul 15.00 WIB. Kemarin, digelar kebaktian dan doa bersama oleh umat Buddha. Kebaktian dipimpin Bhiksu Prani Dhana Thera (Yan Chen She) dari Vihara Samidha Bagya Jalan Thamrin Siantar, Bhiksu dari Medan, dan Bikhsuni dari Vihara Setia Budi Medan. Kebaktian juga dihadiri para keluarga korban.

 

Usai kebaktian, para keluarga korban menangis di dekat jenazah. Di dekat jenazah Susanti, suami dan dua putranya menangis. Warga Jalan Pal No VI/2 d Km 12 Binjai itu berdoa sembari menyeka wajah sang istri yang telah kaku.

 

Suami Susanti, Sukwi mengaku tidak menyangka atas kejadian tersebut. Sebab istrinya berangkat dari Binjai ke Pematangsiantar rumah bersama rombongan, Sabtu (10/5) khusus untuk beribdah di Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar.

 

“Dia (Susanti) memang pamit tidak pulang. Ia tidur di Vihara Avalokitesvara. Atas peristiwa ini, sedih, karena ibu anak-anak tidak ada lagi,” terang Sukwi yang mengaku menerima informasi kejadian itu Minggu (11/5) pagi.

 

Bhiksu Prani Dhana usai kebaktian mengaku prihatin atas peristiwa tersebut. “Kami, para Bhiksu dan Bhiksuni Vihara Samidha Bagya Pematangsiantar dan Medan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya umat Buddha akibat terbakarnya Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar,” katanya.

 

Sementara Ketua Umum YBKS Pematangsiantar Janis Gojali didampingi Heri Dermawan mengatakan, setelah acara kebaktian, tiga jenazah warga Binjai diberangkatkan ke Binjai. Sementara dua jenazah bhiksu akan disemayamkan selama tiga hari di YBKS, dan selanjutnya dimakamkan di Pemakaman Tambun Nabolon, Pematangsiantar.  

 

Sedangkan jenazah Dian dan Rizal sudah dibawa pulang keluarganya di Serapuh. Keluarganya lah mengurus pemakaman keduanya.

 

Warga Panik, Selamatkan Barang Keluar Rumah

Melihat api sudah menguasai atap gedung Vihara Avalokitesvara, warga sekitar panik. Mereka berlari keluar rumah dan berusaha menyelamatkan barang-barang serta surat-surat berharga.

 

Mereka berlari dan berteriak histeris. Bahkan tak sedikit warga, khususnya kaum ibu menangis dan histeris sambil mengeluarkan barang-barang dari rumah. Tak ayal, di jembatan di Jalan Wahidin menuju Jalan Pematang, barang-barang milik warga berserakan, seperti peralatan elektronik dan lainnya. Dan banyak juga warga yang memilih mengungsi ke rumah famili.

 

Sedangkan kaum pria menyirami tembok dan atap rumah dengan air yang mereka timba dari Sungai Bah Bolon. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi bila api menjalar ke rumah warga.

 

Salahseorang warga, Br Damanik menuturkan, kobaran api dan teriakan minta tolong membuat warga panik. Mereka pun berusaha menyelamatkan benda-benda dari dalam rumah mereka karena khawatir api menjalar hingga ke pemukiman warga.

 

Warga lainnya, Riduansyah Sinaga mengatakan, api memang tidak sampai menjalar ke rumah warga. Namun dinding vihara, yang hanya berjarak sekira satu meter dari pemukiman warga, sudah menghitam. Sepanjang malam, warga berjaga-jaga di sekitar lokasi.

 

“Jika api sampai mengenai satu rumah warga, akan sulit diselamatkan. Selain padat rumah penduduk, rata-rata rumah terbuat dari kayu. Tindakan yang kami lakukan adalah, membawa barang-barang yang bisa kami selamatkan,” ujarnya dengan mata sayu, karena semalaman tidak tidur.

 

Lurah Simalungun, Sariaman Sinaga mengatakan, begitu mendapatkan informasi kebakaran dari warganya sekira pukul 00.30 WIB, ia langsung menuju lokasi dan menghubungi petugas pemadaman kebakaran.

 

Sementara itu hingga hari terang, warga masih memadati lokasi kejadian. Setelah api padam, mereka kembali ke rumah masing-masing dan memasukkan barang-barang serta perabot rumah yang sempat dikeluarkan.

 

Sejumlah warga mengaku, kejadian tersebut mengingatkan mereka pada musibah kebakaran tahun 1982. Saat itu, di pemukiman tersebut terjadi kebakaran meskipun tidak sampai menelan korban jiwa. Namun harta benda mereka tidak terselamatkan.

 

Korban Tewas Disebut Pahlawan        

Tujuh korban tewas dalam musibah kebakaran Vihara Avalokitesvara, Minggu (11/5) dini hari, bisa dinobatkan sebagai pahlawan. Sebab mereka mengalami musibah dan menginggal di dalam gedung Tuhan.

 

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Departemen Agama (Depag) RI, Budi Setiawan saat meninjau lokasi kebakaran Vihara Avalokitesvara di Jalan Sipiso-piso Kelurahan Pematang Kecamatan Siantar Selatan, kemarin sore. Saat meninjau, Budi didampingi Kapolresta Siantar AKBP Drs Andreas Kusmaedi MM, Kakan Depag Siantar Drs H Hanafiah Amin, Kepala Tata Usaha (KTU) Depag Siantar Suaheni Rangkuti, Kapolsek Siantar Selatan AKP Robert Gultom, Asisten III Pemko Siantar Lintong Siagian, Camat Siantar Selatan R Ulina Br Girsang, dan Lurah Pamatang Simalungun J Sinaga.

 

Rombongan disambut para pandita dan tokoh Tionghoa Siantar, seperti Ketua Umum Yayasan Bhakti Kesejahteraan Sosial (YBKS) Janis Gojali, Hery Dermawan, dan lainnya.   

 

Dalam kesempatan itu Budi Setiawan mengatakan, kedatangannya ke Vihara Avalokitesvara sebagai bentuk keprihatinan atas musibah kebakaran gedung tersebut, hingga menelan korban jiwa. Informasi terbakarnya tempat ibadah itu ia terima dari pimpinan Vihara Avalokitesvara, Minggu (11/5) sekira pukul 06.00 WIB.

 

Mendengar kabar tersebut, ia terkejut dan prihatin, sehingga segera memutuskan mengunjungi Vihara Avalokitesvara. “Semua ini cobaan dari Tuhan yang tidak bisa dielakkan. Semoga korban jiwa diterima di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah,” katanya.

 

Sementara itu, Kepala Kantor Departemen Agama (Kakan Depag) Kota Pematangsiantar Drs H Hanafiah Amin didampingi Guru Agama Buddha di Depag Siantar Indianto mengatakan, keluarga besar Depag Pematangsiantar turut berduka cita atas musibah ini. (mag-01/dro/syaf/nik)

→ 1 CommentCategories: Berita